Library Move On: Bangga Menjadi Pustakawan

No Comments

Library Move On: Bangga Menjadi Pustakawan

 

Riah Wiratningsih

UPT Perpustakaan UNS

Jl. Ir. Sutami No.36 A Kentingan-Surakarta

Jawa Tengah

riahwiratningsih@yahoo.com

 

Dipresentasikan pada Seminar Lokakarya dan Workshop Kepustakawanan Nasional Indonesia 2015 Library Move On: Banggan Menjadi Profesional di Dunia Perpustakaan dan Informasi pada tanggal 19-21 Agustus 2015 di Universitas Pendidikan (UPI)-Bandung

Abstract

Someone taking educational options is determined by the interest or pride in a job to be run. How well as working as a librarian? what is the pride of working as a librarian? Through literature study and description of phenomena that exist about the image of librarians, the writer intends to invite librarians to take pride in his/her profession. Library has been transformed from Gutenberg era to Zuckerberg era. The Expertise in provide information literacy and the use of social media is the key in delivering librarians’ value. In this context the librarian has been able to contribute pedagogy. Librarian as a gateway to knowledge, where is information literacy is not just about technology but about pedagogy. This is what makes me proud, this sense of pride stimulate passion to work in the library, wherever I am in the part of library will feel enjoy. So I am proud of what I am. I am a librarian.

Keywords: image of librarians, Gutenberg era to Zuckerberg era, information literacy, pedagogy, passion

 

Abstrak

Pilihan pekerjaan melalui jenjang pendidikan yang ditempuh, diambil berdasarkan ketertarikan atau kebanggaan  seseorang tentang pekerjaan tersebut. Bagaimana halnya dengan bekerja sebagai pustakawan? Di manakah letak kebanggan bekerja sebagai pustakawan? Melalui studi pustaka dan deskripsi fenomena yang ada tentang image  pustakawan  (perguruan tinggi), penulis bermaksud mengajak pustakawan untuk bangga dengan profesinya. Perpustakaan  telah bertransformasi dari  era Gutenberg ke era Zuckerberg. Keahlian memberikan literasi informasi dan pemanfaatan media sosial sebagai jejaring dengan komunitas luar merupakan  “tool” untuk memberikan “nilai” profesi pustakawan. Dalam konteks  ini pustakawan telah mampu memberikan kontribusi pedagogi. Pustakawan sebagai gateway untuk  pengetahuan, dimana literasi informasi bukanlah hanya tentang teknologi tetapi tentang pedagogi. Inilah yang membuat bangga, inilah porsi pustakawan. Dasar kebanggaan ini menjadikan passion bekerja di perpustakaan, dimanapun anda berada di bagian layanan perpustakaan serasa menyenangkan menjadi pustakawan. Saya bangga menjadi pustakawan.

Kata kunci: image pustakawan, era Gutenberg ke era Zuckerberg, literasi informasi, pedagogi, passion

 

Pengantar

Everyone wants a good job, itulah harapan setelah seseorang menempuh pendidikan. Semakin tinggi pendidikan yang ditempuh, harapannya semakin tinggi pula untuk mendapatkan pekerjaan yang mapan. Definisi mapan bisa dilihat dari sisi penghasilan, fasilitas, kedudukan, dan style. Tidak bisa kita abaikan bahwa bekerja adalah bagian dari hidup, dengan bekerja kita bisa bertahan hidup dan kita bisa menikmati hidup  dengan  adanya keseimbangan antara bekerja, keluarga, sahabat dan waktu pribadi. Apapun profesinya dalam bekerja bukan sekedar mencari penghasilan yang bersifat materialis, maka hidup bisa kita nikmati. Lalu pekerjaan apakah itu? Tidak bisa dipungkiri bahwa gaji menjadi pertimbangan utama dalam mencari pekerjaan, gaji tersebut sebanding dengan profesi dan tanggung jawab dari sebuah pekerjaan tersebut, semakin besar tanggung jawabnya maka semakin tinggi pula gaji yang akan didapat. Bagaimana halnya dengan profesi sebagai pustakawan? Pustakawan  memang belum sepopuler profesi lainnya. Citra publik dari profesi mempunyai peran penting dalam menarik anggota baru dan hal ini sangat  berpengaruh terhadap keberlanjutan profesi tersebut.

Jika kita mencari di google tentang gambar pustakawan, kita belum menemukan bahwa melalui gambar tersebut profesi pustakawan adalah profesi yang menarik. Seperti apakah gambaran pustakawan itu? Tua, pakaian dengan warna yang hambar, berkacamata, berambut dikepang, disanggul, bersepatu formal, berwajah serius (unfriendly). Gambar stereotif pustakawan masih banyak ditemukan, bahkan ada gambar populer pustakawan seksi yang tidak merepresentasikan fungsinya sebagai pustakawan.

Everybody who has visited a library knows that the library is really a specific disciplinary space with own etiquette and norms of behaviour. All these norms are related to the value priorities of the library: the book, knowledge, education, order and silence. In the communicative space of the library, the activity of both the librarian and the readers has for centuries been dictated through a binary opposition allowed-prohibited. First that comes to mind is the traditional prohibitive gesture of a librarian: “Sssh! Quiet!” (Einasto, 2015, p.253)

Perpustakaan ketat dengan etika dan norma perilaku. Semua norma-norma ini terkait dengan prioritas nilai perpustakaan: buku, pengetahuan, pendidikan, peraturan dan keheningan. Bahkan masih kita temui perpustakaan dengan penghalang tradisionalnya yaitu  sikap seorang pustakawan: “Sssh! Harap Tenang!  Tentang cara pandang masyarakat melihat pustakawan juga ditentukan oleh kontribusi pustakawan berdasarkan keahlian yang dimiliki.

Stereotypes are oversimplified images of a group; they can leave you with a good impression of someone, but more often they perpetuate a negative view. The most common librarian stereotype is that of the bun-wearing, shushing older woman…But how we are represented affects how our patrons or stakeholders see us. Our skills and contributions are valued based on the stereotype or image people carry of us (Kneale, 2009).

Meskipun saat ini perpustakaan telah bertransformasi dengan layanan digital  dan penguasaan pustakawan tentang pemanfaatan teknologi untuk kenyamanan dan kemudahan akses, diakui memang ada sebagian yang  menggambarkan stereotip masih menempel di pustakawan. Namun demikian marilah kita anggap stereotip sebagai kekuatan untuk pustakawan di masyarakat modern.

Jika kita melihat gambar profesi guru di Finlandia, sudah terbentuk citra bahwa profesi tersebut sangat menarik dan elegan (terhormat). Di Finlandia profesi guru memiliki status yang tinggi, sangat diminati, dan mengajar adalah profesi yang populer di Finlandia. Status sosial ekonomi profesi tergantung pada nilai yang dirasakan  masyarakat. Finlandia sudah terbukti sebagai negara yang  sukses dalam menangani pendidikan. Hal ini tidak terlepas dari peran pustakawan di Finlandia ‘Teacher and librarian have a same aim in Finland both cooperate for  motivating reading activity and  teaching information retrieval. Finland is a country of readers excellent public libraries, highly-educated librarians’ (Sinko, 2012). Sudah adakah nilai pustakawan di masyarakat? Hal ini tergantung dari seberapa besar peranan/keterlibatan pustakawan dalam memberikan “nilai” kepada masyarakat. Peran pustakawan dalam memberikan “nilai” kepada masyarakat tidak dapat langsung dirasakan. Seperti dokter yang mengobati pasien, polisi yang mengatur lalu lintas, pengacara yang mengatasi kasus hukum, pilot yang menerbangkan pesawat sampai ke tujuan, arsitek yang merancang gedung megah dan modern, dan profesi lainnya. Pustakawan mencarikan/memberikan informasi yang benar dan berkualitas yang dibutuhkan oleh  pengguna informasi. Kedengarannya sederhana, “hanya melayani informasi”. Bukannya informasi dengan  mudah dapat kita temukan di internet. Paradigma inilah yang sampai saat ini masih tertanam di masyarakat. Pustakawan adalah penjaga informasi, bukan pengelola informasi. Saatnya perpustakaan move on, melakukan perubahan. “If we don’t tell people how crucial libraries and librarians are, who will?” Siapa lagi kalau bukan pustakawannya. Hal yang perlu dirubah adalah mindset bahwa pustakawan juga memberikan “nilai” berupa intangible asset, yaitu bagaimana menemukan  jalan yang benar (akses) menuju sumber-sumber pengetahuan. Di mana pengetahuan adalah core dari eksistensi seseorang. Dokter, polisi, pilot, arsitek tidak akan menjadi diri mereka tanpa bekal pengetahuan  dan sumber dari pengetahuan ada di perpustakaan. Menurut surat kabar The Independence (Feb 2015) bahwa di Inggris menempatkan pustakawan sebagai profesi yang diminati:

The three most desirable jobs in Britain are an author, a librarian and an academic, according to a new study that suggests the country is increasingly bookish in its career aspirations…Being an author was the most popular choice among both men and women, with more than 60 per cent selecting it as their dream job. It was followed by a career as a librarian (54 per cent) and in academia (51 per cent). Lawyers came in fourth place, with journalism in sixth behind interior design.

Tidaklah heran jika perpustakaan nasional Inggris yang dikenal dengan British library merupakan 10 perpustakaan yang terbesar di dunia.  Kemajuan Inggris [British] ini diantaranya karena ditopang oleh fasilitas perpustakaan di Inggris yang sangat baik. Bahkan

Perpustakaan Inggris telah memindai (scanning) koran-koran lokal di Inggris yang terbit sejak tahun 1800 juga menambahkan kekayaan materi dari abad ke-20, sampai ke tahun 1950an. ( http://www.britishnewspaperarchive.co.uk/help/about) Sebuah kinerja yang sungguh luar biasa dalam melestarikan kekayaan intelektual untuk mencerdaskan masyarakat Inggris.

Di Indonesia profesi pustakawan sudah mengalami perkembangan dan dibutuhkan dalam  organisasi. Pustakawan muda yang berprestasi dengan terlibat ajang CONSAL sebagai narasumber, menulis artikel ilmiah, menulis buku, terlibat dalam Indonesia mengajar, terlibat dalam proses belajar mengajar (melalui literasi informasi), terlibat di forum perpustakaan dengan hasil konsursium pemanfaatan koleksi untuk bersama, dan lain sebagainya. Melalui tulisan sederhana ini, penulis bermaksud menggambarkan/mendeskripsikan fenomena yang ada tentang nilai perpustakaan, di mana pustakawan sebagai core penentu eksistensi perpustakaan tersebut.  Melalui studi kepustakaan penulis mempelajari literatur yang berhubungan dengan permasalahan yang dikaji, yaitu bagaimana menjadi bangga bekerja sebagai pustakawan era informasi. Penulis membatasi pembahasan untuk pustakawan perguruan tinggi dan  bermaksud menyampaikan action sederhana yang realistis bisa dilakukan oleh pustakawan perguruan tinggi dalam memberikan “nilai” profesi pustakawan sesuai dengan expertise-nya. Harapannya pustakawan menjadi percaya diri dan bangga dengan profesinya.

 

Library Move On: Era Gutenberg-Zukerberg

Tahun 1450an merupakan titik perubahan era komunikasi, di tahun ini Gutenberg telah berhasil menciptakan sebuah alat cetak, dia juga telah berhasil menciptakan sebuah pola pikir baru tentang buku. Budaya tulisan pun dimulai, kemudian penemuan telepon dan telegraph (pada akhir 1900an) juga telah menciptakan era komunikasi baru. menyusul penemuan radio, televisi, film. Satu revolusi lagi tercipta yaitu penggunaan internet pada ranah publik yang memunculkan berbagai fitur baru; www, search engine, chatting, email, blog, e-commerce, e-learning, youtube, sampai pada media social (myspace, facebook, twitter, instagram, linkedin) yang kini sangat digemari oleh generasi netizen.  McLuhan (1995 dalam Einasto 2015, p. 250) menyatakan bahwa kehadiran mesin cetak juga menjadi permulaan abad renaissans di Eropa. Peran sosial perpustakaan menjadi signifikan dalam masa renaissance, dengan sebutan Galaxy Gutenberg. Akses ke perpustakaan pun sudah mulai terbuka, walaupun terbatas untuk bangsawan, pelajar dan kalangan terdidik. Penemuan internet sebagai awal era teknologi memberikan kemudahan akses pencarian informasi. Kompleksitas informasi dalam berbagai pilihan subyek dan berbagai format tersedia di internet. Namun internet tidak bisa disamakan dengan perpustakaan. Milyaran informasi yang tersedia di internet masih perlu ditanyakan tentang keasliannya, validitas , dan reliabilitasnya. Karena siapapun bisa mengunggah informasi apapun tanpa ada filter. Hal ini berbeda dengan informasi yang disajikan oleh perpustakaan, di mana informasi ini sebagai menu “health food” untuk masyarakat pembacanya.

Google tells us that it wants to organize all of the information in the world and provide it to everybody. Librarians answer: “That’s what we’ve done from the beginning of time.” A conflict was bound to ensue. In the end, things will work best if each side does what it does best and takes advantage of what the other side does best. In an ideal world, librarians would not even see Google as “The Other Side (Ballard 2012, p.9).

Menurut Wikipedia, Internet dikenal tahun 1969 untuk keperluan militer. Sedangkan sistem klasifikasi perpustakaan  Dewey Decimal System  diciptakan oleh Melvil Dewey pada tahun 1876Library of Congress classification diciptakan oleh  Herbert Putnam  tahun 1897. Colon Classification (CC) oleh S. R. Ranganathan diciptakan di tahun 1933. Universal Decimal Classification (UDC) diciptakan di akhir abad 19. Dari gambaran tersebut jelas bahwa ilmu perpustakaan tentang pengorganisasian informasi sudah dikenal jauh lebih awal daripada internet. Internet adalah bagian dari perpustakaan, jejaring sosial melalui internet harus menjadi bagian integral dari perpustakaan. Internet bukan “the other side” dari keberadaan perpustakaan.  Internet bukanlah ancaman keberadaan perpustakaan, namun sebaliknya kolaborasi perpustakaan dan internet  selayaknya dua sisi mata uang  yang sama, saling membutuhkan dan dibutuhkan. Ranganathan dalam hukum perpustakaan yang ke lima menyatakan”library is a growing organism” perpustakaan adalah sebuah organisasi yang dinamis mengikuti dinamika kultur masyarakatnya dalam mendapatkan akses informasi. Saat ini akses informasi adalah pintu menuju pengetahuan. Informasi dikelola dengan ilmu perpustakaan berbasiskan teknologi untuk di diseminasikan ke khalayak luas dengan basis teknologi. Maka akses secara universal dapat kita miliki. Tentu saja hal ini menuntut pustakawan beradaptasi dengan teknologi, saatnya pustakawan “mobile” diantara jejaring sosial. Saatnya pustakawan menjadi  dynamic librarian, dengan organisasi yang lentur dan berpikir out of the box  karena perpustakaan  telah bertransformasi dari  era Gutenberg ke era Zuckerberg. The fact is, communities are changing—and libraries must continue to change with them

 

Tabel 1: Changes in Library Era

Gutenberg era Zuckerberg time
Collection-centredCommunication in the buildingMonologue

Vertical one-way communication

Authority and control

Librarian as professional expert

Passive and disciplined user

Panopticon design

Library as temple

Human-centredCommunication also through website and social networks DialogueHorizontal two-way communication

Collaboration and trust

Librarian as guide and partner

Participative user as co-producer and co-creator

Linked zones for several communication forms

Library as “third place”

(Sumber: Olga, Einasto. (2015, p.260).)

Perpustakaan telah memanfaatkan teknologi untuk pengembangan konten, pengolahan, dan akses koleksi (diakses secara universal). Perpustakaan menyusun model-model baru tentang pengelolaan informasi  yang berhubungan dengan user dan suppliers sehingga komunikasi bisa dilakukan melalui media sosial dan ada feedback. Perpustakaan adalah agen perubahan, membangun perubahan  lingkungan perlu kolaborasi dengan komunitas baik di dalam atau diluar untuk menunjukkan keahlian pustakawan. Sebagai seorang komentator, Mackenzie (2014 dalam Derek 2014, p. 203)  merangkum lingkungan di mana dia bekerja:

Librarians need to consider how they can best thrive in this environment of exponential change. By maintaining close contact not only with their communities, but also with other professional groups both inside and beyond their own institution, they will be in a better position to deliver the best of their professional expertise […].

Saatnya library move on, bergerak ke arah perubahan. Perlu tindakan nyata pustakawan yang memberikan “nilai” bagi masyarakat. ‘Blended librarianship is intentionally not library centric (i.e., focused on the building and its physical collections) but, rather, it is librarian centric (i.e., focused on people’s skill, knowledge they have to offer, and relationships they build)’.(Sank , 2011, p.106).

 

Bangga Menjadi Pustakawan

Penulis menyampaikan action sederhana yang realistis bisa dilakukan oleh pustakawan perguruan tinggi dalam memberikan “nilai” sesuai dengan expertise-nya (keahlian dalam mengorganisasi informasi, metadata,  mengorganisasi akses ke sumber informasi, penyebaran pengetahuan,  strategi penelusuran informasi, pengetahuan menilai keakurasian atau kebenaran sumber informasi ilmiah, dan memfasilitasi koneksi pengguna (sivitas akademika) di bidang ilmiah) untuk menuju better position yang  memberikan pengaruh terhadap keberlanjutan profesi pustakawan, dengan melihat fenomena citra pustakawan di lingkungan perguruan tinggi Indonesia, yaitu  membangun kolaborasi dengan dosen melalui kegiatan colaborative learning. Adakah dosen yang mengenal pustakawan? Adakah dosen yang tertarik dengan pustakawan dan  mau bekerjasama dengan pustakawan? Tentu saja ada, tetapi berapa banyak? Dosen yang berbicara tentang perpustakaan mostly  lebih tertarik dengan  sumber daya ilmiah perpustakaan, database online, dan langganan jurnal. Kemudian bagimana pandangan dosen terhadap pustakawan? Sisi pandang dosen tergantung dari peran pustakawan di perguruan tinggi.  Peran akan kelihatan jikalau pustakawan terlibat dalam kegiatan dosen, yaitu proses belajar mengajar atau riset yang dilakukan bersama-sama (adakah dosen yang mengajak pustakawan untuk melakukan riset bersama?).

Proses pembelajaran telah mengalami pergeseran teacher centered instruction menuju student centered, resource-based learning. Kuncinya adalah pembelajaran berbasis perpustakaan atau library-based learning yang memfokuskan bahwa perpustakaan sebagai sumber informasi utama dalam proses pembelajaran. Dosen menggunakan rujukan literature yang ada di perpustakaan (rujukan sudah dimasukkan dalam silabi untuk proses pengadaan bahan pustaka oleh perpustakaan). Adapun untuk mendapatkan literatur perlu suatu proses yaitu penelusuran literature (penelusuran informasi), di mana perpustakaan tidak sekadar menyediakan informasi, namun juga mampu memberikan bekal keterampilan berinformasi kepada mahasiswa. Yaitu  keterampilan dalam mengidentifikasi,  mengakses, menganalisis, mensintesis dan memproduksi pengetahuan. Pemanfaatan teknologi informasi  dalam mendukung pembelajaran student centered learning perlu kolaborasi dengan dosen dan mahasiswa. ‘The collaborative lesson study process is a logical extension of the work of professional learning communities there was a common need to improve collaboration between library and classroom teachers to use information and technology in more meaningful ways’ ( Bilyeu, 2009, p.16).Keahlian di bidang literasi informasi yang dimiliki oleh pustakawan  perlu diberikan kepada sivitas akademika pengguna perpustakaan. Pustakawan dalam hal ini sebagai patner dosen dalam menelusur informasi yang tersedia di perpustakaan ataupun di luar perpustakaan melalui katalog online, database online (e-journal, e-book, abstrak citation), library pathfinder, dan fasilitas elektronik lainnya yang dimiliki oleh perpustakaan sebagai akses informasi. Menurut Nasution (2009, p.57 dalam Samosir, 2010) berdasarkan beberapa penelitian diantarannya mengenai literasi informasi di perguruan tinggi, bahwa kurikulum mengandung literasi informasi akan menjadikan mahasiswa menjadi literat terhadap informasi. Ini dapat dilihat dari kemampuan mahasiswanya dalam mengidentifikasi, mengakses, mengevaluasi dan mengkomunikasikan informasi. Penelitian yang sama juga dilakukan pada University of Colorado yang dilakukan oleh Angeley (2000:1) yang mengatakan bahwa untuk meningkatkan kemampuan literasi mahasiswa diperlukan kolaborasi antara peranan perpustakaan, kurikulum literasi informasi dan fakultas yang mendukung seseorang memiliki literasi informasi. Hal yang sama juga diungkapkan dalam penelitian-penelitian yang dilakukan pada berbagai universitas lainnya yaitu Outhern Association of Colleges and Schools, the Western Association of Colleges and Schools, Western University dan lain-lain. Gerakan pembelajaran sepanjang hayat melalui pendidikan literasi informasi dapat mengembangkan individu yang literat, individu yang kritis dalam mencerna informasi. Individu yang bijak dalam mengambil keputusan dan menghasilkan kualitas hidup dalam bermasyarakat (menjadi masyarakat cerdas). Keterampilan ini paling baik dipelajari dan dipahami bila diajarkan sebagai bagian dari kurikulum perguruan tinggi. Namun baru beberapa perguruan tinggi  yang  memasukkan materi literasi informasi perpustakaan sebagai bagian dari kurikulum.

Apa yang dilakukan oleh pustakawan? Mari kita bergerak di akar rumput, apabila belum ada kebijakan tentang literasi informasi di  perguruan tinggi. Pustakawan tentu mengenal usernya, di perguruan tinggi user aktual adalah dosen dan mahasiswa. Penulis kebetulan mengenal banyak dosen dari berbagai fakultas, dan kebetulan dosen muda lulusan luar negeri. Penulis sampaikan bahwa perpustakaan perguruan tinggi  adalah institusi yang paling cepat beradaptasi dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dalam pengelolaan dan akses informasi. Banyak kemudahan yang diberikan oleh perpustakaan untuk kepentingan sivitas akademika. Jikalau ada dosen dan mahasiswa yang mengatakan kekurangan sumber referensi, hal tersebut dikarenakan ketidaktahuan mereka dimana dan bagaimana untuk mendapatkan akses terhadap informasi tersebut. Kita seirama dalam berbicara tentang perpustakaan, karena mereka telah mengalami menjadi mahasiswa ketika di luar negeri dan merasakan arti penting perpustakaan sebagai jantung perguruan tinggi.  Akhirnya penulis diminta untuk memberikan literasi informasi perpustakaan pada mata kuliah beberapa dosen. Bahkan sampai pada project kuliah panel yang melibatkan pustakawan dan dua dosen dalam satu kali pertemuan (literature search, literature review, dan academic writing). Menurut Leckie dalam (Gregory, 2005, p. 16) menyatakan:

Many teaching faculty admire the work librarians do, but there are others who may have a number of assumptions embedded in their consultation with librarians. For example, faculty may think that: “(1) librarians are generally nice people who are there to help, particularly with technical questions about how various kinds of retrieval processes work, … (2) researchers probably will not need them very much because they already have an idea of what kinds of material they need to find; however, (3) librarians are there if researchers run into trouble

Pandangan dosen terhadap  pustakawan sebagai profesional, terlibat dalam membantu layanan, membantu peneliti apabila kesulitan dalam pencarian informasi. Namun dalam  hal ini bukan sebagai equal akademik. Dosen dan  pustakawan memiliki prioritas dan bidang keahlian yang berbeda. Dosen mengajar dan outputnya mahasiswa mahir terminologi dan teori dasar disiplin ilmu yang dipelajari. Pustakawan melalui keahliannya  fokus untuk menjadikan mahasiswa sebagai pembelajar seumur hidup, terampil dalam mengakses berbagai informasi secara benar dan tepat. Kritis dalam menilai sebuah informasi dan bijak dalam menggunakan informasi. Dalam konteks  ini pustakawan sebenarnya telah mampu menunjukkan bahwa pustakawan memberikan kontribusi pedagogi. Pustakawan sebagai gateway untuk  pengetahuan, melalui literasi informasi. Di mana literasi informasi bukanlah tentang teknologi tetapi tentang pedagogi. Inilah yang membuat saya bangga, inilah porsi pustakawan. Namun ini juga yang belum sepenuhnya disadari oleh pembuat kebijakan kurikulum. Dengan gambaran tersebut membangun  kemitraan dengan dosen  merupakan hal mendasar yang bisa kita lakukan di lingkungan kita sendiri tanpa menunggu birokrasi yang panjang. Action ini untuk melihat diri kita sendiri (pustakawan), dan apa yang dilihat oleh masyarakat sivitas akademika terhadap apa yang kita lakukan.

Dasar kebanggaan ini menjadikan passion bekerja di perpustakaan, menjadikan enjoy dalam menjalin kerjasama, menikmati teknologi, dan hampir semua organisasi di era informasi membutuhkan orang-orang untuk mengelola informasi. Karena didasari oleh passion, bekerja di perpustakaan tidak membosankan.  Kebosanan muncul karena anda tidak kreatif, karena anda sudah merasa di zona nyaman. Tidak butuh hal baru, tidak butuh tantangan, dan melakukan pekerjaan yang sama dan rutin seperti halnya clerk. Bagi penulis bekerja di perpustakaan adalah selalu mendapatkan hal baru (learn new things). Berikut adalah hal-hal yang menjadikan passion bekerja di perpustakaan yang bisa dilakukan oleh pustakawan di perguruan tinggi:

  1. Jika anda di bagian pengadaan koleksi

Koleksi perpustakaan semakin beragam dan membutuhkan proses yang beragam pula. Untuk pengadaan e-journal atau e-book kita dituntut untuk tahu tentang spesifikasi barang,  legal agreement dengan provider, akses (general access and remote access), analysis statistic usage, dan kita akhirnya tahu tentang proses lelang yang melibatkan pihak bagian unit layanan pengadaan. Bagaimana jika gagal lelang, bagaimana menentukan harga perkiraan sendiri (HPS), dan kendala-kendala lainnya. Menarik, menantang, dan memberikan kita pengalaman tentang hal baru. Di sini pustakawan menjadi tahu secara holistic tentang proses pengadaan bukan hanya terbatas pada pengajuan pengadaan koleksi. Dengan pengalaman ini, kita punya bargaining position ketika harus berbicara dengan pihak-pihak yang terlibat. Tim pengembangan koleksi perpustakaan juga harus mempertimbangkan keseimbangan antara koleksi cetak dan digital dan harus mengatasi masalah pengeluaran antara koleksi cetak dan bahan digital untuk meningkatkan koleksi secara keseluruhan. Dalam hal ini perlu dilakukan analisis kebutuhan koleksi dan perlu kerjasama dengan user (mahasiswa dan dosen).

  1. Jika anda di bagian pemrosesan koleksi

Hal menarik di bagian pemrosesan bagi penulis adalah belajar tentang banyak istilah ketika proses penentuan subyek dan klasifikasi. Siapkan kamus umum dan kamus subyek, siapkan thesaurus, siapkan DDC, siapkan AACR2, siapkan atlas, siapkan OCLC (jika diperlukan). Tantangannya adalah bahwa sekarang banyak buku dengan subyek yang multidisiplin. Perlu klasifikasi yang kompleks, yaitu penggabungan beberapa nomor dan tabel. Penulis  menganggap bekerja di pemrosesan seperti bermain puzzle. Jika ada buku yang nenarik, kita bisa membaca lebih awal sebelum disajikan. Di perpustakaan perguruan tinggi jenis koleksi pun beragam tidak terbatas koleksi cetak. Ada Atlas, Globe, CD, Video, dan lain lain dengan penanganan yang berbeda. Kegiatan digitalisasi, alih media, upload karya ilmiah juga bukan hal yang baru bagi pustakawan di era informasi. Penggunaan teknologi sebagi tool adalah hal yang menarik  dan kita menjadi semakin tahu tentang bagaimana kebijakan pengelolaan data digital.

  1. Jika anda di bagian sirkulasi

Bagian sirkulasi menjadi ujung tombak layanan,prima perpustakaan. Kompetenkah anda dalam melayani pengguna dengan beragam sifat dan karakter? Apakah anda menguasai operasional  sistem informasi yang digunakan oleh perpustakaan? Apakah anda memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik ketika ada keluhan pelanggan? Bagian sirkulasi juga merangkap bagian informasi, jadi harus tahu segala hal tentang perpustakaan. Evaluasi statistik (pengguna, pengunjung, peminjam, buku yang dipinjam, buku yang laris dipinjam, dsb) yang berkesinambungan untuk meminimalisir keluhan pengguna perlu dilakukan secara rutin.

  1. Jika anda di bagian referensi

Samuel Green dalam papernya reference service  (berdasarkan pidato di konferensi American Library Association) menyebutkan bahwa pustakawan referensi memiliki 4 peran:
1.Membimbing user bagaimana menggunakan perpustakaan dan sumber informasi
2.Menjawab pertanyaan untuk informasi spesifik
3.Merekomendasikan sumber bahan bacaan yang baik
4.Mempromosikan perpustakaan
Pustakawan referensi harus  responsif terhadap kebutuhan pengguna, siap menjawab pertanyaan  pengguna, baik pertanyaan singkat maupun pertanyaan yang memerlukan  jawaban yang mendetail sesuai dengan kebutuhannya. Jika ada pengguna yang  kesulitan dalam menemukan bahan pustaka yang dibutuhkannya, pustakawan  referensi sesegera mungkin membimbing, sehingga tahu bagaimana cara  menemukan dan cara menggunakan koleksi perpustakaan, khususnya koleksi  referensi. Sebagai contoh tentang penggunaan kamus, ensiklopedi, indeks, dan sebaginya. Kemampuan di bidang Teknologi informasi dan  Kemampuan  berkomunikasi dengan baik sangat diperlukan.

  1. Jika anda di bagian Teknologi Informasi
Menjadi pustakawan di era informasi adalah amazing, informasi selalu bertambah setiap detik, teknologi selalu terupdate setiap waktu. Maka pustakawan juga harus update terhadap informasi yang menjadi kepakarannya. E-book, e-journal, distance learning, OPAC, penggunaan mendeley, penggunaan plagiarism checker technology, pathfinder, repository, searching strategic, layanan RFID dan lain sebagainya.  Pustakawan di era informasi harus lebih berinteraksi dengan user dengan memanfaatkan teknologi, karena user (digital native) menggunakan teknologi sebagai akses terhadap informasi.  Great technology great library. Inilah gambaran perpustakaan modern di era informasi. Mengelola website 7/24 secara informative dan komunikatif.  Perpustakaan  perlu  memasuki ruang media sosial (twitter, facebook, myspace) dalam menghubungkan diri dengan pelanggan mereka.Teknologi ini memiliki relevansi dengan perpustakaan untuk meningkatkan kualitas layanan.
 Intinya dimanapun anda bekerja di bagian perpustakaan, pasti ada hal baru yang anda dapatkan. Tinggal apakah anda mau atau tidak?“Work is either fun or drudgery. It depends on your attitude. I like fun.” (Colleen C. Barrett)

 

Kesimpulan

Diakui bahwa profesi pustakawan tidak banyak dikenal di masyarakat, stereotip pustakawan masih  dirasakana di masyarakat modern. Perlu action dimana pustakawan terlibat dalam masyarakat. Sebagai pustakawan di perguruan  tinggi hal yang bisa dilakukan di akar rumput adalah kolaborasi dengan dosen, karena dosen adalah pintu penyalur ilmu pengetahuan yang efisien. Di mana pengetahuan adalah core dari eksistensi seseorang. Proses pembelajaran telah mengalami pergeseran teacher centered instruction menuju student centered resource-based learning. Perpustakaan adalah media untuk melakukan transfer pengetahuan dan perpustakaan memiliki andil dalam proses berkembangnya pengetahuan. Perpustakaan  telah bertransformasi dari  era Gutenberg ke era Zuckerberg. Keahlian memberikan literasi informasi dan pemanfaatan media sosial sebagai jejaring dengan komunitas luar merupakan  “tool” sebagai ajang untuk memberikan “nilai” profesi pustakawan. Dalam konteks  ini pustakawan sebenarnya telah mampu menunjukkan bahwa pustakawan memberikan kontribusi pedagogi, inilah porsi pustakawan pada tempat yang tepat, dan inilah yang membuat saya bangga menjadi pustakawan.  Rasa bagga ini menciptakan passion dalam bekerja di perpustakaan,  menjadikan enjoy dalam menjalin kerjasama, menikmati teknologi, dan hampir semua organisasi di era informasi membutuhkan orang-orang untuk mengelola informasi. Karena didasari oleh passion, bekerja di perpustakaan adalah menyenangkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Ballard, Terry. (2012). Google This! Putting Google and other social media sites to work for your library. UK:Chandos Publishing

 

Bilyeu,  Linda. (2009). Teachers and librarians collaborate in lesson study.  Knowledge Quest Professional Practice p.16 Volume 38, No. 2, November/December.

 

The British Newspaper Archive. Retrieved June19, 2015. Website: http://www.britishnewspaperarchive.co.uk/help/about

 

Gregory, Gwen Meyer [ed.]. (2005).  The successful academic librarian: winning strategies from library leaders. New Jersey: Information Today.

 

https://en.wikipedia.org/wiki/

The Independence, Monday 16 Feb 2015. The three most desirable jobs in Britain are    author, librarian and academic . Retrieved June 19, 2015. Website:

http://www.independent.co.uk/student/career-planning/getting-job/the-three-most-desirable-jobs-in-britain-are-author-librarian-and-academic-10050138.html

 

Kneale, Ruth. (2009). You Don’t Look Like a Librarian: Shattering

Stereotypes and Creating Positive New Images in the Internet Age (Book Review). Medford, N.J.:Information Today.

 

Law, Derek. (2014). The world is our lobster, rethinking traditional attitudes. New Library World, Vol. 115 Iss 5/6

 

Olga, Einasto. (2015). Transforming library communication: from Gutenberg to Zuckerberg. New Library World, Vol. 116 Iss 5/6

 

Samosir, Fransiska Timoria. (2010). Literasi Informasi Mahasiswa S2 Pascasarjana pada Layanan Digital Perpustakaan USU FT. Retrieved June 5, 2015. Website : repository.usu.ac.id/

 

Shank, John D and Bell, Steven. (2011). Blended librarianship: [re]envisioning the role of librarian as educator in the digital information age. Reference & User Services Quarterly, Volume 51 issue 2.

 

Sinko, Pirjo. (2012). Main factors behind the good PISA reading results in Finland. IFLA, Helsinki: Finnish National Board of Education

 

What is the Role of the Reference Librarian?  Retrieved June 5, 2015. Website: http://connect.ala.org/node/96276

 

 

Categories: library issues

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Skip to toolbar